Mengeksplorasi Aspek Psikologi Komunikasi dalam Film Kembang Api (2023)

 

Film Kembang Api merupakan film terbaru 2023 dengan alur yang tidak biasa dalam sinema Indonesia dan dikenal dengan genre time loop. Film ini melibatkan sejumlah aktor dan aktris ternama, termasuk Donny Damara, Ringgo Agus, Hanggini, dan Marsha Timoty sebagai pemeran utama. Ternyata, film ini merupakan hasil adaptasi dari produksi film Jepang yang berjudul “3ft Ball & Souls” yang dirilis pada tahun 2017. Film ini mengisahkan empat individu yang berkeinginan untuk mengakhiri hidup mereka secara cepat dan tanpa rasa sakit. Salah satu dari mereka mengajukan ide untuk mengakhiri hidup dengan cara meledakkan diri melalui sebuah bola besar yang berisi kembang api. Keempat karakter ini bergabung dalam sebuah kelompok yang dipimpin oleh Fahmi, diperankan oleh Donny Damara. Namun, alih-alih mencapai tujuan mereka, keempatnya malah terjebak dalam fenomena time loop, di mana mereka terus-menerus kembali ke hari yang sama, mirip dengan konsep dalam film “Happy Death Day”. Inti dari cerita ini adalah pengalaman deja vu berulang yang dialami oleh keempat tokoh. Meskipun arah cerita secara umum dapat diprediksi, konflik individual dan interaksi antar karakter membuatnya sangat menarik. Setiap tokoh mengalami konflik yang unik, dan dinamika komunikasi di antara mereka memberikan peluang untuk mengeksplorasi aspek-aspek psikologi komunikasi.

Film “Kembang Api” membagi settingnya antara luar ruangan (eksterior) dan dalam ruangan (interior), tetapi mayoritas adegan terjadi di satu set yang menampilkan sebuah gedung kosong dengan bola kembang api besar di tengahnya. Pencahayaan diatur sedemikian rupa untuk menciptakan atmosfer yang terang redup sesuai dengan lokasi tersebut, dan ini membantu menyoroti ekspresi wajah dari keempat pemeran utama. Adegan yang dilakukan di luar ruangan (eksterior) terutama merupakan kilas balik dari beberapa karakter. Musik juga memainkan peran penting dalam beberapa adegan, membantu membangun suasana yang mendukung cerita. Penggunaan musik ini memberikan dimensi tambahan pada pengalaman penonton, menguatkan pesan-pesan emosional yang ingin disampaikan oleh film “Kembang Api”.

Pengaturan visual dan auditif ini dapat diinterpretasikan sebagai alat komunikasi. Set dan pencahayaan menciptakan atmosfer yang khusus dan memengaruhi cara penonton meresapi situasi dan emosi karakter. Musik sebagai unsur pendukung menguatkan dan memperdalam pesan-pesan emosional yang ingin disampaikan. Selain itu, fokus pada ekspresi wajah keempat pemeran utama dapat memicu identifikasi dan empati dari penonton, yang kemudian berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam terkait dengan aspek-aspek psikologis yang diangkat dalam cerita.

Ada beberapa elemen visual yang secara tidak langsung menyampaikan pesan-pesan psikologis dalam kilauan cahaya yang dihasilkan oleh kembang api yang meledak. Warna, pola, ukuran, dan bentuk yang timbul dari ledakan kembang api dapat menciptakan kesan kagum dan kebahagiaan bagi para penonton. Pengalaman visual yang menarik ini, yang diiringi suasana yang menyenangkan, memiliki potensi untuk tertanam dalam memori jangka panjang seseorang. Dalam konteks komunikasi psikologi sosial, kembang api dapat dianggap sebagai simbol yang kuat. Ketika seseorang menyaksikan pertunjukan kembang api, pengalaman tersebut dapat menjadi titik fokus bagi komunikasi emosional. Warna-warna yang cerah dan bentuk yang indah dapat memicu reaksi emosional positif, seperti kekaguman dan kegembiraan, yang kemudian dapat memengaruhi suasana hati dan persepsi mereka terhadap momen tersebut. Selain itu penggunaan kembang api yang merepresentasikan warna-warna ceria diharapkan mampu membatalkan niat untuk bunuh diri, sesuai dengan teori Broaden & Build yang menyatakan bahwa emosi positif dapat membatalkan emosi negatif (Fahlevi et al, 2022).

Penggunaan kembang api sebagai simbol merayakan sesuatu juga menunjukkan bagaimana komunikasi visual dapat memainkan peran penting dalam membentuk makna sosial. Ketika kembang api digunakan dalam konteks perayaan, simbol tersebut tidak hanya menciptakan pengalaman visual yang menggembirakan, tetapi juga membangun makna kolektif di antara para penonton. Ini membentuk dasar komunikasi simbolik yang melibatkan penggunaan elemen visual untuk menyampaikan pesan-pesan emosional dan sosial.

Fahmi, tokoh dalam cerita ini, ternyata tengah menghadapi kesulitan keuangan karena menanggung kerugian dari kegagalan pekerjaannya sebagai pembuat kembang api. Meskipun hubungannya dengan istri dan anaknya sangat harmonis, dia merasa terjebak oleh beban hutang. Hubungan harmonis Fahmi dengan istri dan anaknya memberikan kontrast dengan keadaan psikologisnya. Ini menggambarkan kompleksitas peran keluarga dalam kesehatan mental seseorang, termasuk bagaimana dukungan keluarga dapat berdampak pada keputusan individu. Dalam upaya putus asa untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi anaknya, Fahmi memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya. Keyakinannya adalah bahwa dengan ketiadaannya, uang asuransi yang diterima keluarganya dapat digunakan untuk mendukung pendidikan anaknya. Persepsi seperti ini dapat membuka diskusi tentang etika, nilai-nilai agama, dan pandangan masyarakat terhadap tindakan tersebut.

Perjuangan Fahmi dengan beban hutang menggambarkan tantangan dalam mengelola stres dan menemukan strategi koping yang efektif. Dalam konteks ini, kita dapat melihat perjuangan seorang ayah yang berusaha melindungi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya, meskipun memilih jalan yang ekstrim. Kisah Fahmi dalam film menggambarkan dinamika kompleks antara individu, keluarga dan lingkungan sosialnya. Fahmi menghadapi krisis identitas karena kegagalan dalam pekerjaannya sebagai pembuat kembang api. Hal ini bisa menciptakan ketidakpastian dan tekanan dalam identitasnya. Aspek dukungan sosial juga dapat dibahas, termasuk bagaimana Fahmi merasa terisolasi atau mungkin tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari lingkungan sosialnya.

Marsha Timoty, yang memerankan karakter Sukma dalam film, memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya sebagai upaya untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh perasaan bersalah terhadap kecelakaan yang dialami bersama anaknya, Darwin. Sukma merupakan satu-satunya yang selamat dari kecelakaan tersebut dan mengharapkan untuk bisa bertemu kembali dengan anaknya. Dalam sebuah adegan di kamar, Sukma terlibat dalam sebuah konflik verbal dengan suaminya. Konteks ini dapat diinterpretasikan sebagai bagian dari lima tahap kedukaan yang diusulkan oleh Elisabeth Kubler Ross. Sukma, dalam fase kedua yang dikenal sebagai fase kemarahan (Anger), seringkali menyalahkan orang lain, termasuk dirinya sendiri, atas kejadian tragis yang menimpa anaknya. Emosi kemarahan dan kekesalan Sukma tercermin dalam interaksi dan konfliknya dengan suaminya (Wahyuni, 2023).

Adegan ini menyoroti bagaimana ekspresi emosi, khususnya kemarahan, dapat menjadi komponen penting dalam dinamika hubungan interpersonal (Fridayanti & Fitriah, 2020). Sukma, dalam usahanya untuk mengatasi rasa bersalah dan kehilangan, mungkin menggunakan kemarahan sebagai cara untuk mengatasi perasaan yang lebih dalam. Komunikasi antara Sukma dan suaminya mencerminkan dinamika psikologis yang kompleks dalam menghadapi kehilangan dan rasa bersalah. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa lima tahap kedukaan adalah suatu konsep yang bersifat umum dan setiap individu dapat mengalami tahapan tersebut dengan cara yang unik (Julianti dan Laksmiwati, 2022). Komunikasi antar karakter dalam film mencerminkan kompleksitas perjalanan emosional yang dapat dialami seseorang dalam menghadapi tragedi dan kesedihan, serta bagaimana komunikasi dapat menjadi alat untuk memahami dan mengelola berbagai perasaan yang terlibat.

Pada waktu 00:09:35, adegan menunjukkan ekspresi wajah Sukma yang sangat jelas menggambarkan perasaan kesedihan yang mendalam. Teriakan keras “bisa berhenti bahas Monas!” menunjukkan bahwa Sukma sedang merasakan kembali kenangan tragis dengan anaknya yang telah meninggal. Ekspresi emosi Sukma dan permintaannya agar berhenti membahas Monas bisa diartikan sebagai upaya untuk melindungi dirinya dari pemikiran atau perbincangan yang memicu kenangan yang menyakitkan. Sementara itu, pada waktu 00:35:24, Sukma mengalami gangguan kepanikan ketika mengetahui ada seorang anak yang juga ingin melakukan percobaan bunuh diri. Ekspresi wajahnya mencerminkan panik, ditandai dengan tindakan menggaruk-garuk anggota tubuh dan ekspresi ketidaknyamanan. Reaksi ini mencerminkan bagaimana pengalaman pribadi Sukma mempengaruhi cara dia merespons situasi yang serupa. Pusingnya saat membicarakan anak kecil menunjukkan dampak emosional yang mendalam. Dua gambar tersebut mencerminkan bagaimana individu merespons dan berkomunikasi dalam situasi yang penuh emosi dan trauma. Ekspresi wajah, tindakan fisik, dan reaksi emosional Sukma menyoroti pentingnya memahami bagaimana komunikasi dapat mencerminkan pengalaman psikologis yang kompleks dan beragam. Selain itu, gambar-gambar tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa non-verbal dan verbal digunakan untuk menyampaikan perasaan dan mengatasi situasi sulit yang melibatkan kesehatan mental dan percobaan bunuh diri (Rinaldi & Masykur, 2017).

Ringgo Agus memerankan karakter Raga, seorang dokter yang mengalami trauma berat akibat kegagalan menyelamatkan seorang ibu hamil dan bayinya. Trauma ini memengaruhi kesehatan mental dan emosionalnya, yang pada gilirannya memicu perasaan tidak enak dan rasa tegang ketika melakukan tugas medis kembali. Pada waktu 00:53:21, terdapat kilas balik yang menggambarkan momen ketika Raga gagal menyelamatkan pasiennya, menyebabkan trauma mendalam. Trauma ini sangat memengaruhi fokus dan kesejahteraan psikologis Raga, bahkan sampai pada titik di mana dia merencanakan percobaan bunuh diri. Reaksi Raga terhadap teguran atasannya, terutama dengan tremor tangan, mencerminkan bagaimana trauma dapat memanifestasikan dirinya dalam gejala fisik dan emosional. Tremor tangan menjadi tanda nyata dari tekanan psikologis yang dialaminya. Penjelasan Raga mengenai ketegangan, ketidaknyamanan, sesak napas, dan tremor saat bekerja menunjukkan bagaimana pekerjaan dan pengalaman trauma dapat saling terkait (Dirgayunita, 2016).

Penggambaran ini menyoroti bagaimana individu dalam profesi kesehatan dapat mengalami dampak yang mendalam akibat pengalaman traumatis. Reaksi Raga juga dapat diinterpretasikan sebagai upaya untuk berkomunikasi mengenai kesulitan yang dialaminya kepada atasan dan mungkin mendapatkan pemahaman atau dukungan. Penjelasan mengenai depresi dan gejala-gejala yang dialami Raga membuka diskusi tentang pengaruh lingkungan kerja terhadap kesejahteraan mental seseorang. Ini menekankan pentingnya komunikasi terbuka di tempat kerja, di mana stigmatisasi dan pemahaman terhadap masalah kesehatan mental dapat mengurangi tekanan individu dan meningkatkan dukungan sosial (Daeli et al, 2023).

Pada scane 00:56:36 Raga yang mengalami depresi dan mencoba bunuh diri beberapa kali dengan cara berbeda, termasuk menenggelamkan diri di dalam air di dalam bathtub sambil mendengarkan lagu “Runtuh” yang dinyanyikan oleh Fiersa Besari dan Feby Putri. Musik ini dianggap sebagai bentuk self-healing bagi seseorang yang mengalami kegagalan, depresi, hingga mencapai penerimaan diri. Lagu ini menjadi sarana untuk proses penyembuhan secara internal. Peran musik sebagai alat ekspresi diri dan pemrosesan emosi dapat dipahami sebagai upaya individu untuk mencari pemulihan. Selain itu lagu “Runtuh” diharapkan mampu menjadi alat yang dapat mengubah persepsi dan memberikan efek positif terhadap kondisi emosional seseorang (Pradana, 2022). Upaya Raga untuk bunuh diri melalui berbagai cara menunjukkan tingkat depresi yang signifikan. Psikologi sosial memandang tindakan ekstrem sebagai cara individu untuk mengatasi ketidakmampuan mengatasi tekanan emosional dan mental (Andriyani, 2019).

Tokoh yang terakhir diketahui kasusnya adalah Anggun, dimana Anggun dirundung oleh teman sekolahnya. Dan Ibunya Anggun tidak mengetahui kalau di sekolah Anggun menjadi korban bully. Anggun mungkin merasa terisolasi secara sosial karena tidak dapat berkomunikasi dengan ibunya tentang pengalaman perundungan di sekolah. Ada kemungkinan kesulitan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman tersebut. Pada waktu 01:24:28 yang menceritakan kilas balik Anggun yang mengalami perundungan dan pelecehan seksual dari teman sekolahnya. Ketika Anggun mengalami perundungan dari teman-teman sekolahnya, ekspresi tubuhnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang remaja yang ketakutan. Raut wajahnya mencerminkan kesedihan, dan dalam cara bicaranya, Anggun terlihat hanya terdiam dan menangis di toilet sekolahnya. Gestur tubuh Anggun, seperti raut wajah yang menunjukkan ketakutan dan kesedihan, adalah bentuk komunikasi non-verbal yang dapat memberikan informasi tentang perasaan dan kondisi emosionalnya. Fakta bahwa Anggun hanya terdiam dan menangis di toilet sekolahnya menunjukkan adanya kesulitan untuk menyampaikan perasaan atau pengalaman secara verbal. Psikologi sosial memperhatikan bahwa ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan pengalaman sulit secara lisan dapat terkait dengan faktor-faktor seperti rasa malu, takut, atau ketidakmampuan untuk menemukan dukungan. Reaksi Anggun menunjukkan bagaimana perundungan dapat berdampak pada kesejahteraan mental seseorang. Psikologi sosial menyoroti pentingnya mendukung individu yang mengalami situasi serupa dan menciptakan lingkungan yang aman (Sekarnintyas & Sunarto, 2019).

Dalam adegan tersebut, terlihat Anggun mengambil uang dari dompet Ibunya. Anggun mempunyai keyakinan bahwa dengan mengakhiri hidupnya, orang-orang yang merundungnya akan menyesal dan tidak akan mengulangi perilaku tersebut. Perundungan dapat dilihat sebagai bentuk dinamika kekuasaan di antara teman sebaya. Dalam konteks ini, psikologi sosial dapat memperhatikan bagaimana perundungan dapat memengaruhi persepsi diri dan interaksi sosial (Pudjiastami, 2020). Anggun meyakini bahwa mengakhiri hidupnya akan membuat orang-orang yang merundungnya menyesal. Ini mencerminkan pemahaman tentang konsekuensi tindakan ekstrim dan bagaimana individu memandang dampak sosial dari keputusan mereka. Komunikasi psikologi sosial menekankan pentingnya dukungan emosional dan pembukaan saluran komunikasi dengan orang-orang terdekat. Dalam hal ini, membahas bagaimana dukungan sosial dan komunikasi yang terbuka dapat membantu Anggun mengatasi kesulitan yang dihadapinya (Yanti, 2021).

Pada scane 01:27:19, Anggun menerima panggilan telepon dari Ibunya. Ibu Anggun berusaha memberikan dukungan dan merangkul Anggun yang tampaknya memiliki keinginan untuk melakukan percobaan bunuh diri. Meskipun ibunya berusaha, tindakan tersebut tidak berhasil menghentikan Anggun dari niatnya untuk bunuh diri. Keadaan sekitar dan pengaruh lingkungan tampak memainkan peran dalam memperkuat keinginan Anggun untuk melakukan percobaan bunuh diri. Ibu Anggun mencoba merangkul dan memberikan dukungan emosional kepada Anggun melalui panggilan telepon. Ini mencerminkan upaya untuk membuka saluran komunikasi dan memberikan dukungan psikososial. Ibu Anggun tidak menghentikan niat Anggun untuk bunuh diri. Hal ini dapat dianalisis dari perspektif ketidakmampuan individu untuk mengatasi tekanan lingkungan atau masalah yang lebih dalam (Nelma, 2019). Kesulitan Anggun untuk dihentikan oleh dukungan Ibu Anggun menunjukkan perlunya pendekatan psikososial yang lebih mendalam. Ini mungkin termasuk konseling profesional atau intervensi lainnya.

Lalu pada scane 01:28:35, terjadi percobaan bunuh diri oleh Fahmi, Raga, Sukma, dan Anggun setelah mereka berkali-kali mengalami pengulangan waktu (timeloop). Teknik pengambilan gambar yang digunakan adalah teknik medium shot dengan ketinggian mata (eye level) memberikan fokus pada wajah dan ekspresi emosi para karakter, sedangkan teknik eye level menciptakan keterlibatan dan kedekatan dengan pemirsa. Ini membantu menyampaikan intensitas emosi yang dialami oleh karakter. Adegan ini juga disertai dengan suara seperti ledakan kembang api menciptakan atmosfer yang dramatis dan menyajikan adegan dengan kekuatan visual yang tinggi, visual slow motion meningkatkan dramatisme adegan dan memberikan penekanan pada setiap detail yang terjadi selama percobaan bunuh diri., dan pencahayaan yang sangat terang dari bawah yang menciptakan efek seolah-olah terjadi ledakan kembang api sungguhan. Musikalitas dalam adegan ini ditonjolkan melalui elemen suara percikan bom kembang api yang dapat meningkatkan ketegangan dan atsmorfer adegan. Pengambilan gambar dalam adegan ini secara sinematik dirancang untuk menciptakan dampak emosional yang kuat pada penonton. Dengan menggabungkan teknik visual dan elemen suara, sutradara dapat menciptakan pengalaman sinematik yang mendalam dan menggugah perasaan (Suwanto, 2020).

Selain itu terdapat dialog yang berulang-ulang, yaitu “Urip iku urup,” yang diartikan sebagai “Hidup adalah cahaya.” Dialog ini muncul beberapa kali dan dianggap sebagai wejangan turun temurun yang diberikan kepada beberapa tokoh. Wejangan ini diinterpretasikan sebagai pandangan yang menekankan pentingnya bertahan hidup. Dialog tersebut menjadi kekuatan dalam menyampaikan pesan filosofis terkait arti hidup. Selama beberapa kali disinggung oleh tokoh, penulis mulai menyadari bahwa itulah pesan yang sebenarnya ingin disampaikan. Momen di mana keempat karakter terus hidup setelah ledakan bom pun mulai dikaitkan dengan kutipan berbahasa Jawa tersebut. Keberlanjutan hidup setelah situasi yang sulit dihadapi diasosiasikan dengan makna dari kutipan tersebut.

Wejangan "Urip iku urup" mencerminkan nilai-nilai dan identitas kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam komunikasi psikologi, pesan-pesan yang diteruskan melalui tradisi dan budaya dapat memiliki dampak pada identitas individu. Dialog tersebut mengeksplorasi tema arti hidup dan motivasi untuk bertahan di tengah tantangan. Dalam psikologi, pemahaman tentang makna hidup dapat memengaruhi motivasi, kesejahteraan emosional, dan keberlanjutan individu dalam menghadapi kesulitan (Aisah et al, 2023). Adegan ini dianggap menyentuh hati karena memberikan dimensi dan makna yang mendalam pada narasi film. Dalam psikologi, momen yang tidak terduga dan mendalam dapat menciptakan pengalaman emosional yang kuat. Dialog “Urip iku urup” dan keterkaitannya dengan keberlanjutan hidup karakter dapat diinterpretasikan sebagai elemen psikologis yang meresap dalam narasi film, membentuk pemahaman penonton tentang arti hidup, keberlanjutan, dan kekuatan untuk menghadapi tantangan hidup.

Selain dari konflik internal yang dialami oleh setiap tokoh dalam film “Kembang Api”, interaksi antar tokoh juga menjadi fokus yang penting karena dari sinilah muncul konsep ilmu psikologi. Perbedaan persepsi terhadap suatu permasalahan dapat terjadi antarindividu, di mana hal yang sulit bagi satu orang mungkin dianggap sepele oleh orang lain, dan sebaliknya. Kegembiraan atau keberhasilan seseorang yang membuatnya menangis bisa dianggap biasa oleh orang lain. Dalam konteks ini, film menggambarkan bagaimana masih banyak orang yang mungkin meremehkan atau tidak memahami permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Sebuah scene menunjukkan bagaimana Anggun, yang masih duduk di bangku SMA, dilarang untuk bunuh diri oleh tokoh lain yang merasa bahwa masalah Anggun seharusnya dianggap remeh. Mereka bahkan menyalahkan Anggun sebagai penyebab mereka terjebak dalam time loop. Adanya adu nasib antara karakter-karakter yang lebih tua dan lebih muda juga diperlihatkan, di mana mereka saling berkompetisi mengenai siapa yang paling malang dalam situasi tersebut.

Pesan yang ingin disampaikan oleh film adalah bahwa, daripada adu nasib atau saling meremehkan, lebih baik jika kita saling mendukung dan memberikan support satu sama lain. Film ini mengajarkan pentingnya empati dan pemahaman terhadap permasalahan orang lain. Di samping itu, “Kembang Api” juga menyampaikan pesan bahwa kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan atau kejadian di masa lalu. Dalam konteks kesehatan mental, film menunjukkan kebutuhan akan pendampingan dan dukungan sosial bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan. Film ini menyoroti bahwa yang dibutuhkan bukanlah cemooh atau penilaian negatif, melainkan dukungan, teman, dan dorongan untuk tetap hidup. Dari segi emosional, penulis menyatakan bahwa film ini berhasil menyentuh hati, meskipun akhir ceritanya terbilang klise dan mudah ditebak. Kesederhanaan dan keindahan cerita, serta penyampaian pesan-pesan yang mendalam dalam setiap adegan, diapresiasi oleh penonton.

Pesan utama yang diusung film ini adalah bahwa meskipun mati mungkin terasa mudah, bertahan dengan harapan kecil untuk diri sendiri dan cinta di sekitar kita akan membawa kita kepada hidup yang bercahaya. Dalam komunikasi psikologi, film ini menyentuh berbagai aspek penting, termasuk perbedaan persepsi, dukungan sosial, dan upaya untuk memahami serta membantu sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, mengedepankan empati, mendukung satu sama lain, dan menghargai perbedaan persepsi dapat berkontribusi pada kesejahteraan psikologis individu dan komunitas.



REFERENSI

Aisah Nurul et al (2023). Proses Makna Hidup Pada Mahasiswa Prasejahtera. Seurune, Jurnal Psikologi Unsyiah. Vol. 6. No. 1.

Andriyani Juli (2019). Strategi Coping Stres Dalam Mengatasi Problema Psikologis. Jurnal At-Taujih. Vol. 2. No. 2

Daeli Erwin Jaya, Junaidi & Nurfalah Cut Alma. (2023). Peranan Pola Komunikasi Pimpinan Terhadap Motivasi Kerja Karyawan Pada Waroengberita.Com. Jurnal Network MediaVol: 6 No.2

Dirgayunita, A. (2016). Depresi: Ciri, Penyebab dan Penangannya. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, 1(1)

Fahlevi Reza et al (2022). Psikologi Positif. Padang: PT Global Eksekutif Teknologi.

Fridayanti F., & Fitriah Elis Anisah (2020). Mengapa Dan Bagaimana Saya Marah? Studi Eksplorasi Mengenai Penyebab Dan Pilihan Ekspresi Marah Pada Remaja Islam Beretnis Sunda. Indonesian Journal of Indigenous Psychology

Julianti Tri & Laksmiwati Hermien (2022). Pengalaman Kedukaan Pasca Kehilangan Anggota Keluarga Akibat Covid-19. Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 8. No. 9

Nelma Hapsarini. (2019). Gambaran Burnout Pada Profesional Kesehatan Mental. JP3SDM. Vol. 8. No. 1

Pradana Arsil Bayu (2022). Pemaknaan Lirik Lagu Evaluasi (Studi Analisis Semiotika Pemaknaan Lirik Lagu Evaluasi yang Dipopulerkan Oleh Hindia). Skripsi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Pudjiastami Ainun (2020). Hubungan Perilaku Bullying Dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Siswa Sekolah Dasar Di Kota Makassar. Skripsi Universitas Bosowa Makassar.

Rinaldi Fikri R & Masykur Achmad Mujab (2017). PENGALAMAN KECELAKAAN LALU LINTAS BERAT Sebuah Studi Kualitatif Fenomenologi. Jurnal Empati, Januari 2017, Volume 6(1), 164-172

Sekarningtyas Prilia & Sunarto (2019). Pengaruh Intensitas Bullying Terhadap Pola Komunikasi Interpersonal Pada Mahasiswa FISIP UNDIP Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2017. Jurnal Ilmu Komunikasi

Suwanto Musthofa Agus (2020). Sinematografi Pelajar. Edukasi.com

Wahyuni Sukma Dwi (2023). Self Acceptance Santri Resistensi Di Pondok Pesantren Al Iman Putri Babadan Ponorogo. Skripsi IAIN Ponorogo.

Yanti Fitri (2021). Psikologi Komunikasi. Lampung: Agree Media Publushing.

Comments