Mengeksplorasi Aspek Psikologi Komunikasi dalam Film Kembang Api (2023)
Film
Kembang Api
Film
“Kembang Api” membagi settingnya antara luar ruangan (eksterior) dan dalam
ruangan (interior), tetapi mayoritas adegan terjadi di satu set yang
menampilkan sebuah gedung kosong dengan bola kembang api besar di tengahnya.
Pencahayaan diatur sedemikian rupa untuk menciptakan atmosfer yang terang redup
sesuai dengan lokasi tersebut, dan ini membantu menyoroti ekspresi wajah dari
keempat pemeran utama. Adegan yang dilakukan di luar ruangan (eksterior)
terutama merupakan kilas balik dari beberapa karakter. Musik juga memainkan
peran penting dalam beberapa adegan, membantu membangun suasana yang mendukung
cerita. Penggunaan musik ini memberikan dimensi tambahan pada pengalaman
penonton, menguatkan pesan-pesan emosional yang ingin disampaikan oleh film
“Kembang Api”.
Pengaturan
visual dan auditif ini dapat diinterpretasikan sebagai alat komunikasi. Set dan
pencahayaan menciptakan atmosfer yang khusus dan memengaruhi cara penonton
meresapi situasi dan emosi karakter. Musik sebagai unsur pendukung menguatkan
dan memperdalam pesan-pesan emosional yang ingin disampaikan. Selain itu, fokus
pada ekspresi wajah keempat pemeran utama dapat memicu identifikasi dan empati
dari penonton, yang kemudian berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam
terkait dengan aspek-aspek psikologis yang diangkat dalam cerita.
Ada
beberapa elemen visual yang secara tidak langsung menyampaikan pesan-pesan
psikologis dalam kilauan cahaya yang dihasilkan oleh kembang api yang meledak.
Warna, pola, ukuran, dan bentuk yang timbul dari ledakan kembang api dapat
menciptakan kesan kagum dan kebahagiaan bagi para penonton. Pengalaman visual
yang menarik ini, yang diiringi suasana yang menyenangkan, memiliki potensi
untuk tertanam dalam memori jangka panjang seseorang. Dalam konteks komunikasi
psikologi sosial, kembang api dapat dianggap sebagai simbol yang kuat. Ketika
seseorang menyaksikan pertunjukan kembang api, pengalaman tersebut dapat
menjadi titik fokus bagi komunikasi emosional. Warna-warna yang cerah dan
bentuk yang indah dapat memicu reaksi emosional positif, seperti kekaguman dan
kegembiraan, yang kemudian dapat memengaruhi suasana hati dan persepsi mereka
terhadap momen tersebut. Selain itu penggunaan kembang api yang
merepresentasikan warna-warna ceria diharapkan mampu membatalkan niat untuk
bunuh diri, sesuai dengan teori Broaden & Build yang menyatakan bahwa emosi
positif dapat membatalkan emosi negatif (Fahlevi et al, 2022).
Penggunaan
kembang api sebagai simbol merayakan sesuatu juga menunjukkan bagaimana
komunikasi visual dapat memainkan peran penting dalam membentuk makna sosial.
Ketika kembang api digunakan dalam konteks perayaan, simbol tersebut tidak
hanya menciptakan pengalaman visual yang menggembirakan, tetapi juga membangun
makna kolektif di antara para penonton. Ini membentuk dasar komunikasi simbolik
yang melibatkan penggunaan elemen visual untuk menyampaikan pesan-pesan
emosional dan sosial.
Fahmi,
tokoh dalam cerita ini, ternyata tengah menghadapi kesulitan keuangan karena
menanggung kerugian dari kegagalan pekerjaannya sebagai pembuat kembang api.
Meskipun hubungannya dengan istri dan anaknya sangat harmonis, dia merasa
terjebak oleh beban hutang. Hubungan harmonis Fahmi dengan istri dan anaknya
memberikan kontrast dengan keadaan psikologisnya. Ini menggambarkan
kompleksitas peran keluarga dalam kesehatan mental seseorang, termasuk
bagaimana dukungan keluarga dapat berdampak pada keputusan individu. Dalam
upaya putus asa untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi anaknya, Fahmi
memiliki niat untuk mengakhiri hidupnya. Keyakinannya adalah bahwa dengan
ketiadaannya, uang asuransi yang diterima keluarganya dapat digunakan untuk
mendukung pendidikan anaknya. Persepsi seperti ini dapat membuka diskusi
tentang etika, nilai-nilai agama, dan pandangan masyarakat terhadap tindakan
tersebut.
Perjuangan
Fahmi dengan beban hutang menggambarkan tantangan dalam mengelola stres dan
menemukan strategi koping yang efektif. Dalam konteks ini, kita dapat melihat
perjuangan seorang ayah yang berusaha melindungi dan memberikan yang terbaik
untuk anaknya, meskipun memilih jalan yang ekstrim. Kisah Fahmi dalam film
menggambarkan dinamika kompleks antara individu, keluarga dan lingkungan
sosialnya. Fahmi menghadapi krisis identitas karena kegagalan dalam
pekerjaannya sebagai pembuat kembang api. Hal ini bisa menciptakan
ketidakpastian dan tekanan dalam identitasnya. Aspek dukungan sosial juga dapat
dibahas, termasuk bagaimana Fahmi merasa terisolasi atau mungkin tidak
mendapatkan dukungan yang cukup dari lingkungan sosialnya.
Marsha
Timoty, yang memerankan karakter Sukma dalam film, memiliki niat untuk
mengakhiri hidupnya sebagai upaya untuk menghilangkan rasa sakit yang
ditimbulkan oleh perasaan bersalah terhadap kecelakaan yang dialami bersama
anaknya, Darwin. Sukma merupakan satu-satunya yang selamat dari kecelakaan
tersebut dan mengharapkan untuk bisa bertemu kembali dengan anaknya. Dalam
sebuah adegan di kamar, Sukma terlibat dalam sebuah konflik verbal dengan
suaminya. Konteks ini dapat diinterpretasikan sebagai bagian dari lima tahap
kedukaan yang diusulkan oleh Elisabeth Kubler Ross. Sukma, dalam fase kedua
yang dikenal sebagai fase kemarahan (Anger), seringkali menyalahkan orang lain,
termasuk dirinya sendiri, atas kejadian tragis yang menimpa anaknya. Emosi
kemarahan dan kekesalan Sukma tercermin dalam interaksi dan konfliknya dengan
suaminya (Wahyuni, 2023).
Adegan
ini menyoroti bagaimana ekspresi emosi, khususnya kemarahan, dapat menjadi
komponen penting dalam dinamika hubungan interpersonal (Fridayanti &
Fitriah, 2020). Sukma, dalam usahanya untuk mengatasi rasa bersalah dan
kehilangan, mungkin menggunakan kemarahan sebagai cara untuk mengatasi perasaan
yang lebih dalam. Komunikasi antara Sukma dan suaminya mencerminkan dinamika
psikologis yang kompleks dalam menghadapi kehilangan dan rasa bersalah. Dalam
konteks ini, penting untuk memahami bahwa lima tahap kedukaan adalah suatu
konsep yang bersifat umum dan setiap individu dapat mengalami tahapan tersebut
dengan cara yang unik (Julianti dan Laksmiwati, 2022). Komunikasi antar
karakter dalam film mencerminkan kompleksitas perjalanan emosional yang dapat
dialami seseorang dalam menghadapi tragedi dan kesedihan, serta bagaimana
komunikasi dapat menjadi alat untuk memahami dan mengelola berbagai perasaan
yang terlibat.
Pada
waktu 00:09:35, adegan menunjukkan ekspresi wajah Sukma yang sangat jelas
menggambarkan perasaan kesedihan yang mendalam. Teriakan keras “bisa berhenti
bahas Monas!” menunjukkan bahwa Sukma sedang merasakan kembali kenangan tragis
dengan anaknya yang telah meninggal. Ekspresi emosi Sukma dan permintaannya
agar berhenti membahas Monas bisa diartikan sebagai upaya untuk melindungi
dirinya dari pemikiran atau perbincangan yang memicu kenangan yang menyakitkan.
Sementara itu, pada waktu 00:35:24, Sukma mengalami gangguan kepanikan ketika
mengetahui ada seorang anak yang juga ingin melakukan percobaan bunuh diri.
Ekspresi wajahnya mencerminkan panik, ditandai dengan tindakan menggaruk-garuk
anggota tubuh dan ekspresi ketidaknyamanan. Reaksi ini mencerminkan bagaimana
pengalaman pribadi Sukma mempengaruhi cara dia merespons situasi yang serupa.
Pusingnya saat membicarakan anak kecil menunjukkan dampak emosional yang
mendalam. Dua gambar tersebut mencerminkan bagaimana individu merespons dan
berkomunikasi dalam situasi yang penuh emosi dan trauma. Ekspresi wajah,
tindakan fisik, dan reaksi emosional Sukma menyoroti pentingnya memahami
bagaimana komunikasi dapat mencerminkan pengalaman psikologis yang kompleks dan
beragam. Selain itu, gambar-gambar tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa
non-verbal dan verbal digunakan untuk menyampaikan perasaan dan mengatasi
situasi sulit yang melibatkan kesehatan mental dan percobaan bunuh diri
(Rinaldi & Masykur, 2017).
Ringgo
Agus memerankan karakter Raga, seorang dokter yang mengalami trauma berat
akibat kegagalan menyelamatkan seorang ibu hamil dan bayinya. Trauma ini
memengaruhi kesehatan mental dan emosionalnya, yang pada gilirannya memicu
perasaan tidak enak dan rasa tegang ketika melakukan tugas medis kembali. Pada
waktu 00:53:21, terdapat kilas balik yang menggambarkan momen ketika Raga gagal
menyelamatkan pasiennya, menyebabkan trauma mendalam. Trauma ini sangat
memengaruhi fokus dan kesejahteraan psikologis Raga, bahkan sampai pada titik
di mana dia merencanakan percobaan bunuh diri. Reaksi Raga terhadap teguran
atasannya, terutama dengan tremor tangan, mencerminkan bagaimana trauma dapat
memanifestasikan dirinya dalam gejala fisik dan emosional. Tremor tangan menjadi
tanda nyata dari tekanan psikologis yang dialaminya. Penjelasan Raga mengenai
ketegangan, ketidaknyamanan, sesak napas, dan tremor saat bekerja menunjukkan
bagaimana pekerjaan dan pengalaman trauma dapat saling terkait (Dirgayunita,
2016).
Penggambaran
ini menyoroti bagaimana individu dalam profesi kesehatan dapat mengalami dampak
yang mendalam akibat pengalaman traumatis. Reaksi Raga juga dapat
diinterpretasikan sebagai upaya untuk berkomunikasi mengenai kesulitan yang
dialaminya kepada atasan dan mungkin mendapatkan pemahaman atau dukungan.
Penjelasan mengenai depresi dan gejala-gejala yang dialami Raga membuka diskusi
tentang pengaruh lingkungan kerja terhadap kesejahteraan mental seseorang. Ini
menekankan pentingnya komunikasi terbuka di tempat kerja, di mana stigmatisasi
dan pemahaman terhadap masalah kesehatan mental dapat mengurangi tekanan
individu dan meningkatkan dukungan sosial (Daeli et al, 2023).
Pada
scane 00:56:36 Raga yang mengalami depresi dan mencoba bunuh diri beberapa kali
dengan cara berbeda, termasuk menenggelamkan diri di dalam air di dalam bathtub
sambil mendengarkan lagu “Runtuh” yang dinyanyikan oleh Fiersa Besari dan Feby
Putri. Musik ini dianggap sebagai bentuk self-healing bagi seseorang yang
mengalami kegagalan, depresi, hingga mencapai penerimaan diri. Lagu ini menjadi
sarana untuk proses penyembuhan secara internal. Peran musik sebagai alat
ekspresi diri dan pemrosesan emosi dapat dipahami sebagai upaya individu untuk
mencari pemulihan. Selain itu lagu “Runtuh” diharapkan mampu menjadi alat yang
dapat mengubah persepsi dan memberikan efek positif terhadap kondisi emosional
seseorang (Pradana, 2022). Upaya Raga untuk bunuh diri melalui berbagai cara
menunjukkan tingkat depresi yang signifikan. Psikologi sosial memandang
tindakan ekstrem sebagai cara individu untuk mengatasi ketidakmampuan mengatasi
tekanan emosional dan mental (Andriyani, 2019).
Tokoh
yang terakhir diketahui kasusnya adalah Anggun, dimana Anggun dirundung oleh
teman sekolahnya. Dan Ibunya Anggun tidak mengetahui kalau di sekolah Anggun
menjadi korban bully. Anggun mungkin merasa terisolasi secara sosial karena
tidak dapat berkomunikasi dengan ibunya tentang pengalaman perundungan di
sekolah. Ada kemungkinan kesulitan untuk mengekspresikan perasaan dan
pengalaman tersebut. Pada waktu 01:24:28 yang menceritakan kilas balik Anggun
yang mengalami perundungan dan pelecehan seksual dari teman sekolahnya. Ketika
Anggun mengalami perundungan dari teman-teman sekolahnya, ekspresi tubuhnya
menunjukkan bahwa dia adalah seorang remaja yang ketakutan. Raut wajahnya
mencerminkan kesedihan, dan dalam cara bicaranya, Anggun terlihat hanya terdiam
dan menangis di toilet sekolahnya. Gestur tubuh Anggun, seperti raut wajah yang
menunjukkan ketakutan dan kesedihan, adalah bentuk komunikasi non-verbal yang
dapat memberikan informasi tentang perasaan dan kondisi emosionalnya. Fakta
bahwa Anggun hanya terdiam dan menangis di toilet sekolahnya menunjukkan adanya
kesulitan untuk menyampaikan perasaan atau pengalaman secara verbal. Psikologi
sosial memperhatikan bahwa ketidakmampuan untuk mengkomunikasikan pengalaman
sulit secara lisan dapat terkait dengan faktor-faktor seperti rasa malu, takut,
atau ketidakmampuan untuk menemukan dukungan. Reaksi Anggun menunjukkan
bagaimana perundungan dapat berdampak pada kesejahteraan mental seseorang.
Psikologi sosial menyoroti pentingnya mendukung individu yang mengalami situasi
serupa dan menciptakan lingkungan yang aman (Sekarnintyas & Sunarto, 2019).
Dalam
adegan tersebut, terlihat Anggun mengambil uang dari dompet Ibunya. Anggun
mempunyai keyakinan bahwa dengan mengakhiri hidupnya, orang-orang yang
merundungnya akan menyesal dan tidak akan mengulangi perilaku tersebut. Perundungan
dapat dilihat sebagai bentuk dinamika kekuasaan di antara teman sebaya. Dalam
konteks ini, psikologi sosial dapat memperhatikan bagaimana perundungan dapat
memengaruhi persepsi diri dan interaksi sosial (Pudjiastami, 2020). Anggun
meyakini bahwa mengakhiri hidupnya akan membuat orang-orang yang merundungnya
menyesal. Ini mencerminkan pemahaman tentang konsekuensi tindakan ekstrim dan
bagaimana individu memandang dampak sosial dari keputusan mereka. Komunikasi
psikologi sosial menekankan pentingnya dukungan emosional dan pembukaan saluran
komunikasi dengan orang-orang terdekat. Dalam hal ini, membahas bagaimana
dukungan sosial dan komunikasi yang terbuka dapat membantu Anggun mengatasi
kesulitan yang dihadapinya (Yanti, 2021).
Pada
scane 01:27:19, Anggun menerima panggilan telepon dari Ibunya. Ibu Anggun
berusaha memberikan dukungan dan merangkul Anggun yang tampaknya memiliki
keinginan untuk melakukan percobaan bunuh diri. Meskipun ibunya berusaha,
tindakan tersebut tidak berhasil menghentikan Anggun dari niatnya untuk bunuh
diri. Keadaan sekitar dan pengaruh lingkungan tampak memainkan peran dalam
memperkuat keinginan Anggun untuk melakukan percobaan bunuh diri. Ibu Anggun
mencoba merangkul dan memberikan dukungan emosional kepada Anggun melalui
panggilan telepon. Ini mencerminkan upaya untuk membuka saluran komunikasi dan
memberikan dukungan psikososial. Ibu Anggun tidak menghentikan niat Anggun
untuk bunuh diri. Hal ini dapat dianalisis dari perspektif ketidakmampuan
individu untuk mengatasi tekanan lingkungan atau masalah yang lebih dalam
(Nelma, 2019). Kesulitan Anggun untuk dihentikan oleh dukungan Ibu Anggun
menunjukkan perlunya pendekatan psikososial yang lebih mendalam. Ini mungkin
termasuk konseling profesional atau intervensi lainnya.
Lalu
pada scane 01:28:35, terjadi percobaan bunuh diri oleh Fahmi, Raga, Sukma, dan
Anggun setelah mereka berkali-kali mengalami pengulangan waktu (timeloop).
Teknik pengambilan gambar yang digunakan adalah teknik medium shot dengan
ketinggian mata (eye level) memberikan fokus pada wajah dan ekspresi emosi para
karakter, sedangkan teknik eye level menciptakan keterlibatan dan kedekatan
dengan pemirsa. Ini membantu menyampaikan intensitas emosi yang dialami oleh
karakter. Adegan ini juga disertai dengan suara seperti ledakan kembang api
menciptakan atmosfer yang dramatis dan menyajikan adegan dengan kekuatan visual
yang tinggi, visual slow motion meningkatkan dramatisme adegan dan memberikan
penekanan pada setiap detail yang terjadi selama percobaan bunuh diri., dan
pencahayaan yang sangat terang dari bawah yang menciptakan efek seolah-olah
terjadi ledakan kembang api sungguhan. Musikalitas dalam adegan ini ditonjolkan
melalui elemen suara percikan bom kembang api yang dapat meningkatkan
ketegangan dan atsmorfer adegan. Pengambilan gambar dalam adegan ini secara
sinematik dirancang untuk menciptakan dampak emosional yang kuat pada penonton.
Dengan menggabungkan teknik visual dan elemen suara, sutradara dapat
menciptakan pengalaman sinematik yang mendalam dan menggugah perasaan (Suwanto,
2020).
Selain
itu terdapat dialog yang berulang-ulang, yaitu “Urip iku urup,” yang diartikan
sebagai “Hidup adalah cahaya.” Dialog ini muncul beberapa kali dan dianggap
sebagai wejangan turun temurun yang diberikan kepada beberapa tokoh. Wejangan
ini diinterpretasikan sebagai pandangan yang menekankan pentingnya bertahan
hidup. Dialog tersebut menjadi kekuatan dalam menyampaikan pesan filosofis
terkait arti hidup. Selama beberapa kali disinggung oleh tokoh, penulis mulai
menyadari bahwa itulah pesan yang sebenarnya ingin disampaikan. Momen di mana
keempat karakter terus hidup setelah ledakan bom pun mulai dikaitkan dengan
kutipan berbahasa Jawa tersebut. Keberlanjutan hidup setelah situasi yang sulit
dihadapi diasosiasikan dengan makna dari kutipan tersebut.
Wejangan
"Urip iku urup" mencerminkan nilai-nilai dan identitas kultural yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam komunikasi psikologi, pesan-pesan
yang diteruskan melalui tradisi dan budaya dapat memiliki dampak pada identitas
individu. Dialog tersebut mengeksplorasi tema arti hidup dan motivasi untuk
bertahan di tengah tantangan. Dalam psikologi, pemahaman tentang makna hidup
dapat memengaruhi motivasi, kesejahteraan emosional, dan keberlanjutan individu
dalam menghadapi kesulitan (Aisah et al, 2023). Adegan ini dianggap menyentuh
hati karena memberikan dimensi dan makna yang mendalam pada narasi film. Dalam
psikologi, momen yang tidak terduga dan mendalam dapat menciptakan pengalaman
emosional yang kuat. Dialog “Urip iku urup” dan keterkaitannya dengan
keberlanjutan hidup karakter dapat diinterpretasikan sebagai elemen psikologis
yang meresap dalam narasi film, membentuk pemahaman penonton tentang arti
hidup, keberlanjutan, dan kekuatan untuk menghadapi tantangan hidup.
Selain
dari konflik internal yang dialami oleh setiap tokoh dalam film “Kembang Api”,
interaksi antar tokoh juga menjadi fokus yang penting karena dari sinilah
muncul konsep ilmu psikologi. Perbedaan persepsi terhadap suatu permasalahan
dapat terjadi antarindividu, di mana hal yang sulit bagi satu orang mungkin
dianggap sepele oleh orang lain, dan sebaliknya. Kegembiraan atau keberhasilan
seseorang yang membuatnya menangis bisa dianggap biasa oleh orang lain. Dalam
konteks ini, film menggambarkan bagaimana masih banyak orang yang mungkin
meremehkan atau tidak memahami permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Sebuah
scene menunjukkan bagaimana Anggun, yang masih duduk di bangku SMA, dilarang
untuk bunuh diri oleh tokoh lain yang merasa bahwa masalah Anggun seharusnya
dianggap remeh. Mereka bahkan menyalahkan Anggun sebagai penyebab mereka
terjebak dalam time loop. Adanya adu nasib antara karakter-karakter yang lebih
tua dan lebih muda juga diperlihatkan, di mana mereka saling berkompetisi
mengenai siapa yang paling malang dalam situasi tersebut.
Pesan
yang ingin disampaikan oleh film adalah bahwa, daripada adu nasib atau saling
meremehkan, lebih baik jika kita saling mendukung dan memberikan support satu
sama lain. Film ini mengajarkan pentingnya empati dan pemahaman terhadap
permasalahan orang lain. Di samping itu, “Kembang Api” juga menyampaikan pesan
bahwa kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan atau kejadian
di masa lalu. Dalam konteks kesehatan mental, film menunjukkan kebutuhan akan
pendampingan dan dukungan sosial bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Film ini menyoroti bahwa yang dibutuhkan bukanlah cemooh atau penilaian
negatif, melainkan dukungan, teman, dan dorongan untuk tetap hidup. Dari segi
emosional, penulis menyatakan bahwa film ini berhasil menyentuh hati, meskipun
akhir ceritanya terbilang klise dan mudah ditebak. Kesederhanaan dan keindahan
cerita, serta penyampaian pesan-pesan yang mendalam dalam setiap adegan,
diapresiasi oleh penonton.
Pesan utama yang diusung film ini adalah bahwa meskipun mati mungkin terasa mudah, bertahan dengan harapan kecil untuk diri sendiri dan cinta di sekitar kita akan membawa kita kepada hidup yang bercahaya. Dalam komunikasi psikologi, film ini menyentuh berbagai aspek penting, termasuk perbedaan persepsi, dukungan sosial, dan upaya untuk memahami serta membantu sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, mengedepankan empati, mendukung satu sama lain, dan menghargai perbedaan persepsi dapat berkontribusi pada kesejahteraan psikologis individu dan komunitas.
REFERENSI
Aisah Nurul et al (2023). Proses Makna
Hidup Pada Mahasiswa Prasejahtera. Seurune, Jurnal Psikologi Unsyiah. Vol. 6.
No. 1.
Andriyani Juli (2019). Strategi Coping
Stres Dalam Mengatasi Problema Psikologis. Jurnal At-Taujih. Vol. 2. No. 2
Daeli Erwin Jaya, Junaidi & Nurfalah
Cut Alma. (2023). Peranan Pola Komunikasi Pimpinan Terhadap Motivasi Kerja
Karyawan Pada Waroengberita.Com. Jurnal Network MediaVol: 6 No.2
Dirgayunita, A. (2016). Depresi: Ciri,
Penyebab dan Penangannya. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, 1(1)
Fahlevi Reza et al (2022). Psikologi
Positif. Padang: PT Global Eksekutif Teknologi.
Fridayanti F., & Fitriah Elis Anisah
(2020). Mengapa Dan Bagaimana Saya Marah? Studi Eksplorasi Mengenai Penyebab
Dan Pilihan Ekspresi Marah Pada Remaja Islam Beretnis Sunda. Indonesian Journal
of Indigenous Psychology
Julianti Tri & Laksmiwati Hermien
(2022). Pengalaman Kedukaan Pasca Kehilangan Anggota Keluarga Akibat Covid-19.
Jurnal Penelitian Psikologi. Vol. 8. No. 9
Nelma Hapsarini. (2019). Gambaran Burnout
Pada Profesional Kesehatan Mental. JP3SDM. Vol. 8. No. 1
Pradana Arsil Bayu (2022). Pemaknaan Lirik
Lagu Evaluasi (Studi Analisis Semiotika Pemaknaan Lirik Lagu Evaluasi yang
Dipopulerkan Oleh Hindia). Skripsi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Pudjiastami Ainun (2020). Hubungan
Perilaku Bullying Dengan Kemampuan Interaksi Sosial Pada Siswa Sekolah Dasar Di
Kota Makassar. Skripsi Universitas Bosowa Makassar.
Rinaldi Fikri R & Masykur Achmad Mujab
(2017). PENGALAMAN KECELAKAAN LALU LINTAS BERAT Sebuah Studi Kualitatif
Fenomenologi. Jurnal Empati, Januari 2017, Volume 6(1), 164-172
Sekarningtyas Prilia & Sunarto (2019).
Pengaruh Intensitas Bullying Terhadap Pola Komunikasi Interpersonal Pada
Mahasiswa FISIP UNDIP Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2017. Jurnal Ilmu
Komunikasi
Suwanto Musthofa Agus (2020).
Sinematografi Pelajar. Edukasi.com
Wahyuni Sukma Dwi (2023). Self Acceptance
Santri Resistensi Di Pondok Pesantren Al Iman Putri Babadan Ponorogo. Skripsi
IAIN Ponorogo.
Yanti Fitri (2021). Psikologi Komunikasi. Lampung: Agree Media Publushing.
Comments
Post a Comment